Sejarah singkat SMK Syafi’i Akrom Kota Pekalongan

SMK Syafi'i Akrom

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Syafi’i Akrom Kota Pekalongan berlokasi di Jalan Pelita 1 No. 322 (Perumahan Buaran Indah) Kota Pekalongan, berdiri atas kesepakatan kerjasama antara Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kota Pekalongan dengan Yayasan Pondok Pesantren al-Qur’an Buaran melalui bantuan Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, Depdiknas RI dengan Rekomendasi Kanwil Depag Provinsi Jawa Tengah.

Berdirinya SMK Syafi’i Akrom merupakan salah satu program pemerintah untuk memprioritaskan pembangunan SMK kecil di pondok pesantren.

Pembangunan tersebut mulai dilaksanakan berdasarkan hasil rapat PC Ma’arif NU dan Pengurus Ponpes Al-Qur’an Buaran pada tanggal 23 Januari 2004 yang ditetapkan dengan SK Bersama Pengurus Ponpes al-Qur’an Buaran dan PC Ma’arif NU Nomor: 25/PP.AB/1/2004 dan Nomor: 59/PC.II/LPM/1/2004 tanggal 24 Januari 2004 tentang Panitia Pembangunan Gedung SMK Syafi’i Akrom Buaran Pekalongan.

Keesokanharinya yaitu tanggal 24 Januari 2004 tepatnya pukul 07.00 WIB dilangsungkan upacara peresemian peletakan batu pertama pembangunan gedung SMK Syafi’i Akrom yang dihadiri oleh Rais Syuriah NU, Pengurus Ponpes al-Qur’an Buaran dan PC Ma’arif NU serta tokoh-tokoh masyarakat dan ‘Alim ‘Ulama juga undangan dari Depag serta Dinas Pendidikan Kota Pekalongan. Kemudian penggunaannya diresmikan pada tanggal 26 Mei 2004 oleh Menteri Agama RI Bapak Prof. H. Said Aqil Munawar, LC, MA dengan penandatangani prasasti.

Sejalan pembangunan fisik, gedung dan sarana prasarana, panitia bekerja keras untuk menyiapkan kebutuhan-kebutuhan non fisik guna menunjang suksesnya proses kegiatan belajar mengajar, yaitu;

  1. Sosialisasi penerimaan siswa baru dengan membentuk panitia penerimaan siswa baru
  2. Rekrutmen tenaga guru dan TU/Karyawan
  3. Pengangkatan kepala sekolah dan strukturalnya
  4. Pembentukan Pengurus sekolah dan komite sekolah.

Setelah kepala sekolah terpilih, maka kepala sekolah segera membentuk panitia PSB 2004/2005 dengan nama Panitian Penerimaan Siswa Baru 2004/2005 SMK Syafi’i Akrom. Pemberian nama Syafi’i Akrom adalah hasil keputusan rapat bersama panitia pendirian, PC Ma’arif NU dan Pengurus Ponpes al-Qur’an Buaran pada tanggal 10 Oktober 2003 di Aula Pondok Pesantren Syafi’i Akrom. Pemberian nama Syafi’i Akrom ini ngalap berkah kepada dua tokoh Ulama besar pendiri pondok pesantren Syafi’i Akrom yaitu K.H. Syafi’i Abdul Majid dan K.H. Akrom Khasani.

Berkat usaha maksimal dari semua pihak dan doa para kiai pada tahun ajaran 2004/2005, tahun pertama berdirinya, SMK Syafi’i Akrom berhasil memperoleh kepercayaan masyarakat, yaitu mendapat 157 siswa baru, terdiri atas; Jurusan TKJ 37 siswa baru dan jurusan otomotif 120 siswa baru. Perolehan siswa baru sebanyak itu melampaui jumlah siswa SMK Swasta di Kota Pekalongan. Setelah satu tahun mengadakan KBM, SMK Syafi’i Akrom mengajukan izin operasional kepada dinas pendidikan tepatnya pada tahun 2005 dan mendapat izin operasional sebagai lembaga pendidikan secara penuh pada tahun tersebut.

Secara singkat fase-fase sejarah SMK Syafi’i Akrom dapat di lihat pada uraian berikut;

  1. Masa berdrinya SMK Syafi’i Akrom (14 Mei 2003 – 16 Agustus 2004)
  2. Masa perkembangan SMK Syafi’i Akrom (2005 – 2011)
  3. Masa pencanangan budaya disiplin, karakter siswa, dan peningkatan mutu pendidikan SMK Syafi’i Akrom terpadu Pondok Pesantren Syafi’i Akrom (6 Juli 2011 – Sekarang).

Pada tahun 2015 Dinas Pendidikan Kota Pekalongan menunjuk SMK Syafi’i Akrom sebagai SMK Rujukan bagi Sekolah Menengah Kejuruan di daerah Kota Pekalongan karena telah dianggap memenuhi syarat sebagai SMK Rujukan yaitu memiliki dan mendidik siswa-siswi sebanyak 1000 anak atau lebih dan SMK Syafi’i Akrom pada saat itu dan tahun ajaran 2016/2017 ini pun sedang mendidik siswa-siswa sebanyak 1106 anak dengan prosentasi 45% tinggal di Pondok/Asrama ponpes Syafi’i Akrom.Lulusan SMK Syafi’i Akrom dikenal siap kerja, sebagian besar terserap dalam lapangan kerja, baik perusahaan besar atau kecil, dalam dan luar negeri, sebagian membuka usaha sendiri (wirausaha), dan sebagian lagi melanjutkan kuliah baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Sumber : Udin Zaenudin, S.Pd.I

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *